Friday, January 23, 2015

hujan januari

hai januari, hai hujan
bukankah baru kemarin kau menyapa bumiku di bulan desember? sudah keberapa kalinya kah kedatanganmu hari ini? bahkan belum sempat tanahku dikeringkan matahari, kau sudah membasahinya lagi. belum sempat tubuhku menyerap hangatnya matahari, sudah kau dinginkan dia lagi.

hai januari, hai hujan
setiap tetesmu seperti berkisah. tentang kepergian, tentang kerelaan, tentang pepisahan, dan tentang penerimaan. pernahkan kau menjadi syarat terjadinya sebuah pertemuan? seperti "aku akan menemuimu kala hujan pertama turun". mungkin terdengar seperti drama atau opera, tapi pernahkah?

hai januari, hai hujan
ini baru awal tahun. baru awal dari sebuah buku. tapi dingin sudah membukanya pertama kali. gelap sudah mewarnainya pertama kali. masih adakah harapan untuk dingin dan gelap itu untuk pergi? masihkah ada celah untuk hangat dan terang datang menghampiri? semoga belum terlambat untuk menemukan sehelai selimut, atau sekedar sabatang lilin dan korek api.

hai januari.....



jumat, 23 januari 2015
16:09:13 WIB; hujan di sore hari

Wednesday, December 24, 2014

hai, apa kabar?
sudah berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali aku menumpahkan rasa di atas lembaranmu. mungkin sebulan? mungkin setahun? atau lebih dari itu? ntahlah. diantara hari yang kulewati kemarin ada masa pahit yang hingga saat ini masih menghantui bahkan menjerat pikiranku.

mengapa harus begini jalan ceritanya? terkadang ide kejam menjamahku, haruskah aku membunuhnya agar aku lebih merasa terjaga, lebih merasa aman? tapi tak ada dayaku melakukannya. hanya menangisi keterbatasanku yang hingga saat ini masih terombang-ambingkan rasa lelah dan sakit. mengapa tak mau mengerti, bahwa aku sudah tak sanggup lagi melanjutkan kisah ini?

atau mungkin harus kutunjukkan seorang pengganti agar dia tahu bahwa tak ada kesempatan lagi? tapi siapa? atau apa? atau bagaimana? menciptakan kisah baru berarti juga menciptakan kebohongan baru. lalu sampai kapan hidupku harus kuwarnai dengan dusta?

hai, apa kabar?
jangan tanyakan kabarku. karena hidup dan matipun mungkin tak ada bedanya lagi bagiku.

Tuesday, January 1, 2013

secangkir coklat panas di penghujung hari

sudah 23 jam lebih berlalu, menyisakan hujan menutup hari baru, tahun baru.secangkir coklat panas dan sebungkus biskuit menjadi teman menghabiskan hari, dengan laptop yang menyala menyajikan facebook, twitter, skype, dan... ah ya, ms. word yang tak melakukan apa-apa. rintik hujan menggantikan lantunan musik yang biasa menemaniku melewati malam. ah...., nyaman sekali. seperti bergelung dalam pangkuan bunda, menikmati belaian tangannya dan suara halusnya menyanyikan lagu-lagu lama.

kunikmati teguk demi teguk coklat panas, gigit demi gigit biskuit manis. manis-pahit terasa membungkus inderaku. persis seperti hidup. tak melulu hanya tawa di sana. tangis pun terkadang ikut memberikan warna. karena ketika bahagia, kecewa, luka, dan amarah tak menemukan jalan untuk dimengerti, maka air mata adalah satu-satunya cara agar setiap orang mau mencoba mendengar dan memahami.

sudah 23 jam lebih berlalu, menyisakan hujan di penghujung hari baru, tahun baru. dan juga tetes terakhir coklat panasku. remah remah terakhir biskuit dalam kaleng menyisakan sebuah pertanyaan, berapa lama lagi waktuku menikmati saat-saat seperti ini?

Monday, December 31, 2012

11 jam sebelum pergantian tahun

langit masih menyimpan mendung, awan masih menyimpan hujan, dan tanah masih menguarkan aroma basah yang masih tetap menggelitik setiap kali kuhirup dalam. masih terlalu dini untuk hujan, namun sudah terlalu gelap untuk memberi celah matahari bersinar. jadi kunikmati saja mendung yang menggantung rapat, sambil menghirup angin dingin bercampur bau tanah basah, membiarkannya memanja indera penciumanku sebelum hujan menghilangkan semuanya.

siang ini, 11 jam sebelum pergantian tahun. ada 11 jam waktu bagiku untuk merenung. tentang segala hal yang telah kulalui, segala masalah yang telah kualami, tentang segala keputusan yang tak dapat kutarik kembali. 11 jam sebelum suara terompet pergantian tahun memenuhi gendang telinga. 11 jam sebelum semarak kembang api menyaingi terangnya bulan purnama. 11 jam sebelum kalender kembali ke Januari.

apakah akan hujan? apakah hanya langit, ataukah mataku juga akan ikut dalam gerimis?
apakah akan ada kebersamaan? apakah hanya satu, dua-- ataukah lagi-lagi sendirian kulalui malam pergantian ini?
apakah akan baik-baik saja? apakah masih tetap ssama, ataukah semuanya akan berubah dan aku akan ditinggalkan lagi?

siang ini, 11 jam sebelum pergantian tahun. lagi-lagi kurasakan sepi menyergap dan menjebakku dalam lingkarannya. perasaan kehilangan, perasaan sendirian, dan perasaan ditinggalkan mengikatku dalam pusarannya. padahal aku berjanji tak akan mengharapkan siapapun untuk selalu menemaniku, karena sepi adalah kawan paling setia dalam setiap detik hidupku.

siang ini, 11 jam sebelum pergantian tahun......

Friday, November 30, 2012

dingin



Dingin....
Lekat memeluk ragaku yang makin menggigil
Mengikat, seperti kenangan yang masih menyisakan luka
Meski tak lagi ia berdarah
Namun perihnya masih sangat menyiksa


Dingin....
Rapat menyelimuti ragaku yang semakin lelah
Menahan nafasku yang mulai terpatah-patah
Walau keras ku mencoba menggapai dua-tiga patok di depanku
Masih saja letih mematahkan langkahku

Dingin....
Tak juga mau melepasku
Walau tangis sudah menghiasi keluhku
Dan air mata mengaliri gigilku
Menambah erat dingin memelukku
Menambah tajam dingin mengiris-iris kulitku

Kutatap kedua tangan yang jarinya mengeriput
Kutiup kulit yang mulai memutih
Kurasakan nafas yang semakin sesak
Kunikmati sakit yang mengikat erat tubuh

Ketika pandangan ini mulai memudar
Saat itu... kusadari waktuku untuk bersandar

Friday, November 16, 2012

hujan, mengapa berhenti?

bau tanah basah masih meruap mengungkungku
sisa siraman hujan yang meninggalkan harum di sekitarku
baru semenit yang lalu
hujan berhenti turun walau mendung masih menggantung
baru semenit yang lalu
hujan mereda walau langit masih belum bercahaya

hujan, mengapa berhenti?
masih belum puas telingaku mendengar ketuk merdumu
masih belum bosan kulitku merasai dinginmu
masih belum jenuh hidungku membaui aromamu
masih belum jengah mataku memandangi rinaimu

hujan, mengapa berhenti?
aku masih butuhkan suara itu untuk samarkan isakku
aku masih butuhkan rintik itu untuk samarkan air mataku
aku masih butuhkanmu
untuk dinginkan hatiku yang tersengat cemburu
pada dia, dia, dan dia
masih juga orang yang sama

hujan, mengapa berhenti?
turunlah lagi, temani aku melewati menit-menit sepi
jatuhlah lagi, basahi tubuh dan jiwa yang kering ini
merintiklah lagi, mari kita menari
merayakan luka yang tak berhenti menyapa
menyambut sakit yang masih selalu menggigit

hujan, mengapa berhenti?
ayolah, turunlah lagi....

Monday, November 5, 2012

Senin Pagi

selamat pagi senin . . . .
maukah kau bantu aku memulai minggu ini dengan senyuman? karena aku lupa bagaimana caranya tersenyum dengan ringan sejak selasa menggantikanmu tepat seminggu yang lalu.

selamat pagi senin . . . .
aku mencoba mengawalimu dengan hangatnya kopi susu dan manisnya biskuit coklat. di setiap teguknya, harapanku melayang pada hangatnya sapa dari orang-orang terkasih. di setiap gigitan biskuit, doaku terarah pada manisnya senyuman dari hati-hati yang selalu tulus memberi.

selamat pagi senin . . . .
ijinkan aku memohon satu bantuan padamu . . . . tolong bantu aku membawa lagi semangat yang perlahan menguap di akhir minggu yang lalu. berikan aku jalan untuk tetap membawa semangat itu hingga minggu ini berlalu, dan minggu-minggu yang baru menjemputku.

terima kasih . . . .
dan selamat pagi, senin . . . .

Thursday, November 1, 2012

Selamat Datang November

selamat pagi, selamat hari kamis
dan selamat datang november
biasanya aku akan menunggu-nunggu hujan yang selalu datang di bulan ini. entah itu deras, atau hanya sekedar gerimis. tapi hampir pasti, hujan selalu datang di bulan ini.

selamat pagi, selamat hari kamis
dan selamat datang november
tak pernah aku menanti-nanti bulan selain september. tapi kali ini, aku senang menyambutmu, november. idak ada alasan. hanya karena kau dekat dengan desember, akhir tahun yang membawa (semestinya) kedewasaan.

selamat pagi, selamat hari kamis
dan selamat datang november
ada harapan yang ingin kupanjatkan. semoga november adalah penyembuh, dari sisa-sia luka yang ditinggalkan oleh januari, mei, dan oktober. semoga november adalah pupuk untuk kebahagiaan yang dihadiahkan februari, maret, dan september. bagiku . . . . selebihnya adalah anugrah, termasuk kedatanganmu, november.

selamat pagi, selamat hari kamis
dan selamat datang november

Tuesday, October 23, 2012

Dengan Sadar

sebelumnya, saya tidak pernah terpikir untuk menulis seperti ini. mungkin sebelumnya saya adalah gelap yang selalu berusaha terlihat terang. mungkin dulunya saya adalah cacat yang selalu ingin nampak sempurna. mungkin, sekali lagi semuanya masih mungkin.

tidak ada yang tau pasti apa yang sedang, atau akan terjadi. saya pun tidak. yang saya tau hanya, apapun yang telah terlewati cukup memberikan pelajaran bagi saya untuk berkaca. bahwa tidak setiap rencana bisa seindah gambarannya. bahwa tidak semua harapan bisa semudah membayangkannya.

jadi ini, titik kesadaran saya. setiap jalan yang saya lewati adalah saksi dari peluh yang menetes ketika keras saya berusaha melangkah. setiap orang yang saya temui adalah saksi dari luka yang tergores ketika keras saya berusaha bangkit lagi. dan setiap angin yang berhembus, setiap daun yang luruh, setiap kerikil yang menggelinding, setiap nafas yang terhela, adalah saksi. sebuah perjuangan dari seseorang yang pernah gagal dan kalah. namun masih mencoba bangun, dan kembali melangkah.

------

sebuah harapan yang tertuang dalam tulisan
di tengah waktu maghrib
dua puluh tiga oktober dua ribu dua belas

Monday, October 22, 2012

Penegasan

hey, bukankah sudah kukatakan bahwa aku memang mencintaimu?
bukankah sudah juga kukatakan bahwa aku menyayangimu?
bukankah sudah pula kukatakan bahwa aku merindukanmu?
aku menyimpan dalam-dalam namamu?

aku mencintaimu lebih dari kau mencintaiku. menyayangimu lebih dari sayangmu untukku. merindukanmu lebih dari rindumu padaku.menyimpan namamu lebih dalam daripada kau menyimpanku.

bukan . . . . bukan aku ingin menarik perhatianmu. bukan juga untuk memaksamu untuk lebih mencintaiku. aku hanya ingin kamu tau, bahwa hati ini cuma untukmu. hanya ingin kamu tau, bahwa setiap tangis dan tawaku adalah tentang kamu.

------

jika kamu masih juga belum percaya, lihatlah dalam kedua mataku
adakah kebohongan berpendar di situ?

Sunday, October 21, 2012

Akhirnya....

Akhirnya . . . .
setelah kepenatan melepaskan ikatannya dariku, aku mampu untuk melanjutkan langkah yang sempat tertahan oleh peluh yang membanjiri sepatuku.

Akhirnya . . . .
setelah kelelahan menguap dari ubun-ubun kepalaku, aku bisa kembali melihat apa yang seharusnya tak terjadi untuk memperbaikinya lagi.

Akhirnya . . . .
setelah cahaya berpendar sempurna di depan mataku, aku dapat melihat lagi jalan gelap yang sudah kutempuh sekuat tenaga untuk mencari arah keluarnya.

Akhirnya . . . .
kudapatkan lagi senyuman yang pernah memudar
kudapatkan lagi sapa hangat yang sempat menghambar
seperti saat dulu, saat semuanya masih baik-baik saja
seperti saat seolah tak pernah ada yang salah

Akhirnya . . . .
tidur lelap menantiku di ujung malam yang mengakhiri sebuah penantian akan datangnya tenang, dan damai yang mendampingi bidadari mengantarkan bunga-bunga pada mata-mata terpejam, juga rasa lega setelah semuanya yang terjadi menuliskan baris terakhir yang berbunyi, "Selamat Malam Dunia, Selamat Tidur"

Monday, October 15, 2012

Aku dan Pelampiasan Kemarahan

baik, tuduh saja aku sedang menyalahkan keadaan. bilang saja aku tidak bisa menerima kenyataan. katakan saja aku pecundang. tapi coba, sanggupkah jika harus berdiri di tempatku?

aku bukan sedang mencari pembenaran. juga tidak menuntut pembelaan. aku hanya ingin berbagi emosi yang mengaduk jiwaku. aku ingin berbagi lelah yang menghimpit dadaku. ingin berbagi sakit yang menyesakkan nafasku, memberatkan langkahku.

setelah sekian tahun terbiasa tanpa kepedulian, berbeda rasanya ketika perhatian itu datang dalam wujud tak terduga. bukan, aku tidak membicarakan tentang teriakan, apalagi pukulan. aku hanya membicarakan pertanyaan. sebuah pertanyaan biasa yang andai ia datang tidak di saat benakku penuh dengan ketakutan. tentang sebuah nasihat yang akan terasa indah andai ia datang tidak di saat jiwaku disita oleh kelelahan.

kepada kemarahanku, menguaplah. jangan siksa batinku dengan tumpukan emosi yang menyelimuti hati.
kepada kelelahanku, pergilah. jangan tahan langkahku dengan lapisan keluhan yang menghilangkan semangat
kepada kesakitanku, sembuhlah. jangan himpit lagi jiwa yang hampir mati dengan sesak yang menyiksa.
dan kepada kematian.....

Monday, October 8, 2012

Ditemani Secangkir Kopi Susu

berat, aku membuka mata pagi ini
berusaha melihat arah senyuman mentari yang menelusup melalui celah jendela kamar
seperti tersadar setelah lama terbalut abu-abu
meraba-raba dinding mencari sakelar
seperti bayi yang belajar berjalan, tahun ke-satu

ditemani secangkir kopi susu, kukumpulkan lagi nyawaku
seperti orang dulu sering katakan
terasa familier di benak masa kecilku
"mengumpulkan nyawa", sebuah frasa yang membawa jutaan kenangan
tentang langit subuh hari yang gelap
tentang angin subuh hari yang dingin
tentang air subuh hari yang membekukan
dan tentang aroma kopi subuh hari yang menghangatkan

ditemani secangkit kopi susu, kusandarkan tubuhku di kursi
mengingat-ingat rasa yang yang sepertinya pernah kumiliki
entah siapa, dimana, atau bagaimana
bukan hilang, hanya sudah terlalu jauh terpendam
nyaris terlupakan

ditemani seangkir kopi susu, matahari mulai meninggi
kuteguk tetes terakhir kopi susu yang mulai dingin
mengendap, membawa ampas ke dasar cangkir
seperti kenangan yang pelan-pelan tersingkir
menyisakan pekat, dan pahit
seperti luka yang masih meninggalkan sakit

ditemani tegukan terakhir kopi susu
kubangkitkan tubuhku dari sandaran kursi yang menopangku
untuk berjalan lagi
melanjutkan sisa perjalanan
yang telah kumulai jauh sebelum pagi ini

cangkir kopi susu-ku telah kosong
untuk ku isi lagi, besok pagi

Friday, October 5, 2012

Catatan Ketika Hujan



Entah sudah berapa bulan berlalu dalam gersang
Hingga hari ini datang, membawa hujan yang jatuh perlahan
Menguarkan aroma tanah yang segar
Mengalirkan hawa dingin yang menenangkan
Tapi juga mengantarkan sunyi yang mencekam

Hari ini, hujanku turun lagi
Meski bukan yang pertama kali
Masih sedingin yang pernah kutemui
Masih juga sederas yang biasa terjadi
Tapi rasanya sudah sangat lama
Sejak kali terakhir aku merasakan dinginnya
Memelukku begitu erat
Hingga bernafas pun sulit kurasakan

Dingin… sesak… dan menyiksa
Lebih dari sekedar gigil yang menggigit
Lebih dari sekedar kelam yang mengikat
Lebih…
Nafasku yang mulai nyilu
Jemariku yang mulai beku
Dan raut wajah yang makin membiru
Menjerat aliran kata yang pelan melaju
Tercekat tepat di ujung kuku-kuku
Dan terhenti
Tanpa sempat tertuang lebih jauh lagi

Entah sudah berapa bulan berlalu dalam gersang
Hingga hujan deras kembali mengunnjungi kota ini
Memelukku kembali dalam dingin dan sepi
Seperti yang pernah terjadi
Dulu… saat hati ini masih memeram sakit sendiri


04102012
16:29:20
@ A very cold classroom

Monday, October 1, 2012

Sebuah Kisah Usang

haruskah aku mengakhiri semua cerita ini
ketika hati mulai utuh kembali
dari keping-keping mati yang kukumpulkan sendiri
menyusunnya lagi
meski tak cukup waktu hanya hitungan hari

memang semua kisah ini sudah usang
bukan cerita baru dengan bumbu-bumbu drama
bukan lakon baru di panggung-panggung pertunjukan
bukan juga dongeng baru di malam-malam penuh impian

kisah yang kulalui hanya kisah pada umumnya
se-klise dan se-absurd kisah cinta yang lainnya
seperti tentang menghabiskan waktu bersama
membagi begitu banyak cerita-cerita
lalu diam-diam saling memendam dan jatuh cinta

jadi, haruskah kuakhiri saja semuanya?
mencoba menyusun cerita baru, dengan plot yang juga baru
menulis kisah baru, dengan tokoh yang juga baru
yang bukan aku dan hati tak utuh milikku
yang tidak bicara tentang adanya dia atau dia di hidupku
hanya sebuah kisah yang baru dengan segala hal yang juga baru

ini hanya sebuah kisah usang
tentang sesuatu yang pernah kulalui
antara aku, hati, dan cinta

Monday, September 24, 2012

Menyerah

menangisi dia memang tidak ada gunanya. hanya mengorek luka yang sudah lama menganga. tapi tangis adalah tangis. yang terpaksa harus kulepas saat aku tak sanggup. yang terpaksa harus mengalir saat aku tak bisa lagi berpikir.

memangnya apa lagi yang bisa kulakukan? selain tinta dan air mata, tak ada lagi yang kupunya untuk menutup luka. tak ada lagi yang tersisa untuk menahan siksa. hanya karena dia, tak lagi sama.

dan di sisa kesanggupanku untuk berdiri, aku memilih untuk sendiri. mengumpulkan keping-keping hati yang nyaris mati. menyatukannya lagi, mesti tak mungkin utuh kembali. dan di celah-celahnya, kubiarkan kenangan itu melekat. hingga tiba saatnya nanti, aku harus pergi.

Dengan, atau Tanpamu

ada luka yang masih merah di dalam sini. luka yang masih berdarah. luka yang nyaris bernanah. dia masih di dalam sini. menggerogoti. sedikit, sedikit, dan sedikit.

luka itu, luka yang ditinggalkan dia. luka yang tergores sejak kehadirannya. luka yang jadi semakin dalam karena kepergiannya.

dari jutaan sakit yang pernah terasa, mungkin inilah ujungnya. saat sakit ini nanti semakin menjadi, kuharap semua rasaku pun ikut mati. agar tak lagi perih. supaya tak perlu ada lagi rintih.

kunikmati semua sakitku. tak ku obati lukaku. tak kututupi lagi lelahku. tak kujalani lagi semua sandiwaraku. biar aku dan sedikit sisa nafasku yang berjalan. menjemput seberkas harapan. entah nyata, atau hanya sekedar khayalan.

dengan atau tanpamu, tetap ku pilih jalan ini. meskipun harus aku mati dalam sepi.

Thursday, July 5, 2012

AntoloTwit #untukcahaya

kupaksakan untuk mengguyur tubuhku meski dingin tak tertahan. berharap hatiku ikut mati rasa setelahnya.
dan seketika beku itu membungkus sekujur tubuhku, membuatnya menggigil dan membiru.
namun setelah gigil membirukan tubuhku, hanya sesak yang kurasakan. hatiku tetap menyimpan rasa itu. rasa yang ingin kuhilangkan.
rasa yang ingin kuhapus dengan menyiramkan air dari ujung rambutku. namun ia tetap disitu, tak bergeser, apalagi beranjak pergi.
dan yang tersisa akhirnya hanya dadaku yang sesak, mataku yang memanas, dan rasa rindu yang semakin menyiksa #untukcahaya

salahku sendiri membiarkan dia terlalu dalam memasuki ruang hatiku. salahku sendiri membiarkan dia menguak semua rahasiaku.
sekarang setelah tak ada lagi topeng untuk menutup sakitku, aku masih mencoba mencari cadar untuk menyamarkan tangisku.
entah harus apa untuk ku kembalikan topengku, membawaku yang dulu kembali ke panggung sandiwara rasa. menyembunyikan luka yang menganga.
dia sudah membuka semuanya hingga ke dasar rahasia. jiwaku di genggamnya. dan aku tak tau bagaimana untuk kembali mengambilnya. #untukcahaya

malam tadi aku masih memimpikanmu. melihat kau tersenyum pahit padaku dan berkata "jangan paksa aku bunuh cintaku"
malam tadi aku masih memimpikanmu. menatap dalam kedua mataku dan berucap "aku terlanjur mencintaimu"
malam tadi aku masih memimpikanmu. meneteskan airmata di depanku dan memohon "jangan bunuh cinta yang ada di hatimu"
malam tadi aku masih memimpikanmu. menatap wajahmu dan menjawab "kau tau betapa sulitnya menghilangkan cintaku padamu"
malam tadi aku masih memimpikanmu.
dan saat ku terbangun, kusadari itu semua hanya mimpiku. bahkan mungkin kau tak pernah lagi memimpikanku. #untukcahaya

Akankah sepinya malam ini menyampaikan betapa sakit relungku menahankan rindu yang entah terbalaskan atau tidak.
Sudikah semilir angin malam ini membisikkan sebuah tanya tentang cinta yang entah terbalaskan atau tidak.
Maukah dinginnya malam ini menuliskan bait-bait cerita yang entah akan terselesaikan atau tidak.
aku masih ingin menulis tentangmu. tentang kita yang dulu pernah ada di hariku dan harimu. tentang cinta yang dulu pernah tertanam di hatiku dan di hatimu.
aku masih ingin menceritakan tentangmu. tentang kehangatan yang pernah terjalin antara diriku dan dirimu. tentang kemesraan yang pernah tercipta antara jiwaku dan jiwamu.
aku masih ingin menulis tentang semua yang kita lalui berdua. karena hanya dengan itu aku meyakini bahwa pernah ada cinta di antara kita. #untukcahaya



Malam yang beranjak semakin larut dan pekat membingkai perihku dalam sesak.
Tak mampu ku menghela napas di tengah perasaan yang tak pernah ku tahu adakah balasannya.
Airmataku bahkan membeku seiring dengan dingin yang terus dan terus mengikat ragaku.
Ingin sekali rasanya kubiarkan dia mengalir membawa pergi setiap sesal dan kesal di hatiku.
Tapi mungkin memang hanya dirimu yang bisa membuatnya turun untuk membasuh luka yang menganga lebar di hatiku.
Seperti kehadiranmu dulu, yang membawa cahaya menyinari keraguan pada cinta dan akhirnya membawa hatiku padamu. #untukcahaya

Ingin sekali kusebutkan namamu disetiap tulisan yang tertuju untukmu. tapi aku tak mampu. karena hanya akan menggoreskan satu lagi luka baru. #untukcahaya

bandingkanlah dengan gelapnya langit malam ini, masih jauh lebih pekat rinduku padamu yang jatuh berkali-kali,
Lelah kusingkirkan perihnya, kupaksakan untuk menikmati rinduku dalam pelukan malam yang membekukan hati
yang aku takutkan adalah, kau sudah lebih dulu menyerah dalam cinta ini dan membiarkanku tersiksa melaluinya sendiri.
kuharap kau tahu bahwa sebesar apapun usahaku untuk rela melepasmu, lebih besar lagi keinginanku untuk kau kembali mencintaiku
dan aku akan tetap disini. kalau kalau suatu hari nanti kau memutuskan untuk bersamaku kembali. #untukcahaya

@mbakdiii

Sebuah Percobaan Refleksi Nama

namaku diah, diah maulani. menurut orang-orang yang pernah mencoba mengartikannya, "diah" itu bahasa kuno, entah apa artinya. "maulani" itu bahasa arab yang mengandung arti "dua" dan menyandang kepemilikan. bisa diartikan sebagai "junjunganku" atau "dua junjungan". atau mungkin diartikan sebagai "dua orang yang kuhormati." terserahlah....

yang ingin kutanyakan adalah, jika benar nama adalah doa, apakah kesalahan pada namaku juga akhirnya menjadi doa?

ya memang, namaku DIAH MAULANI. namun sebuah kesalahan menjadikannya DIA MAULANI. tanpa huruf H. lalu apakah DIAH yang berubah menjadi DIA itu juga menjadi doa?

DIA. merupakan kata ganti untuk menunjuk orang ketiga. "ORANG KETIGA".
itulah yang kumaksud dengan "doa" disini.

entah mengapa sering sekali dalam hidup, aku menempati posisi sebagai ORANG KETIGA.
menjadi ORANG KETIGA yang membantu menyelesaikan masalah.
menjadi ORANG KETIGA yang menjadi penengah.
menjadi ORANG KETIGA yang mendengarkan dengan sikap netral.
menjadi ORANG KETIGA yang dipersalahkan.
menjadi ORANG KETIGA yang disudutkan.
bahkan,
menjadi ORANG KETIGA yang (dianggap) merusak sebuah hubungan.

apakah itu karena kesalahan pada namaku?
apakah itu karena doa yang diberikan orang tuaku "tak sengaja berubah" karena hilangnya hurufH dari namaku?
atau memang harus begini jalan hidupku?

adakah yang bisa membantu menjawab untukku?

Monday, July 2, 2012

Status Facebook

24 Juni 2012
bersabar untuk ikhlas dan ikhlas dalam bersabar itu berbeda. tapi keduanya sama, berat. berikan kekuatan Ya Allah . . .

27 Juni 2012
Alhamdulillah . . . akhirnya semuanya berantakan juga. terima kasih banyak ya, untuk KEBOHONGAN itu. terima kasih untuk PENGHINAAN itu. terima kasih untuk semuanya.

27 Juni 2012
ternyata kau benar-benar memahamiku. hingga dengan begitu mudahnya kau lambungkan perasaanku setinggi langit lalu . . . satu jentikan jari saja kau hempaskan aku ke dasar bumi. remuk sudah kau buat hatiku. dan luka ini tak akan mungkin akan mengering kecuali jika kau MATI

27 Juni 2012
benar yang orang sering katakan, dia yang berkata "aku mencintaimu sepenuh hatiku" dia juga yang akan sangat menghancurkan hatimu.

28 Juni 2012
Allah . . . apakah memang harus sesakit ini menghilangkan rindu yang terlanjur tertanam?

28 Juni 2012
iya memang aku masih menyimpannya. menyimpan rasa padanya meski baru saja aku menyadari keberadaannya. tapi luka yang melebar ini, aku tak tau bagaimana harus menutupnya. Allah . . . inikah jalan yg Kau beri . . .

29 Juni 2012
Buat 'kamu', tolong jangan memandangku dengan matamu yang menyimpan luka. kamu tak tau setiap pandanganmu menggoreskan segaris lagi lebih dalam luka di hatiku. tolong jangan memandangku dengan rasa sakit itu. kamu tak tau, amarah yang menggunung di hatiku pasti runtuh hanya dengan menatap matamu. tolong . . . . lepaskan aku . . . .

29 Juni 2012
kamu sudah tau bagaimana aku, hatiku, dan perasaanku lebih dari diriku sendiri. aku yakin kamu bisa melepaskan diri dariku. tapi tolong, bantu aku melepaskan diri darimu.

30 Juni 2012
we are much stronger than we know. all we need is just make make ourselves sure that we are, and we'll always be.

30 Juni 2012
sekarang sudah tak mudah lagi air mataku mengalir. mungkin seharusnya aku senang, karena itu berarti aku semakin kuat. tapi saat aku benar-benar membutuhkannya mengalirkan semua sakit dan lelahku, ia tetap tak mau datang. hanya menghadirkan sesak yang memberatkan napas dan langkahku.

 30 Juni 2012
sakmeniko, njenengan nopo kulo sing nulayani ati? kulo nyobi mboten nulayani ati, nanging njenengan mboten nate mirsani. kulo nyuwun tulung sanget dateng njenengan, sanjang mawon nopo sing njenengan kersani. tulung....

01 Juli 2012
kupaksakan untuk mengguyur tubuhku meski dingin tak tertahan. berharap hatiku ikut mati rasa setelahnya.
dan seketika beku itu membungkus sekujur tubuhku, membuatnya menggigil dan membiru.
namun setelah gigil membirukan tubuhku, hanya sesak yang kurasakan. hatiku tetap menyimpan rasa itu. rasa yang ingin kuhilangkan.
rasa yang ingin kuhapus dengan menyiramkan air dari ujung rambutku. namun ia tetap disitu, tak bergeser, apalagi beranjak pergi.
dan yang tersisa akhirnya hanya dadaku yang sesak, mataku yang memanas, dan rasa rindu yang semakin menyiksa

01 Juli 2012
salahku sendiri membiarkan dia terlalu dalam memasuki ruang hatiku. salahku sendiri membiarkan dia menguak semua rahasiaku.
sekarang setelah tak ada lagi topeng untuk menutup sakitku, aku masih mencoba mencari cadar untuk menyamarkan tangisku.
entah harus apa untuk ku kembalikan topengku, membawaku yang dulu kembali ke panggung sandiwara rasa. menyembunyikan luka yang menganga.
dia sudah membuka semuanya hingga ke dasar rahasia. jiwaku di genggamnya. dan aku tak tau bagaimana untuk kembali mengambilnya.